Innovation Lab, Unstructured Structured Course

4 Nov 2012

Menginjak tanah Bavaria tanggal 1 November tengah hari. Mengantisipasi hari berikutnya akan padat dengan jadwal training, kami pun memutuskan untuk menghabiskan sore untuk menelusuri beberapa tempat di Bonn. Cerita tentang itu akan saya ceritakan kemudian. Benar, ternyata dua hari berikutnya kami tak punya cukup waktu untuk menikmati kota ini. Innovation Lab menyita waktu dan fisik kami. Seperti apa Innovation Lab itu?

Innovation Labs mengumpulkan lebih 30 orang dari berbagai negara (males menghitung jumlah persisnya). Mereka adalah alumni beberapa jenis training yang diselenggarakan oleh GIZ, Climate Leadership Programme (CLP), Diplomacy Development Programme (DDP), Education Sustainability Development (ESD) dan sebagian undangan lepas dari berbagai organisasi/ universitas di beberapa negara kolega GIZ. Seluruh peserta datang dibawa ke sebuah gedung bernama Fabrik 45. Nampaknya gedung ini biasa dipakai untuk ruang pamer seni instalasi.

Tak ada satupun dari kami yang tahu mau apa di tempat ini, karena tidak ada rundown acara yang jelas selayaknya training-training yang biasanya. Semua membawa rasa penasaran itu ke dalam sesi pembuka, speed dating dan mengkluster apa yang terpikir atau ingin dishare dalam forum. Maka terbentuklah kelompok-kelompok kecil untuk menggenerate ide dan apa yang terpikir saat itu, terkait proses-proses yang pernah dijalani sebelumnya. Ide-ide dituangkan dalam kertas-kertas metaplan dan ditempel pada sebuah kertas lebar.

Tak ada panduan apapun untuk melakukan proses itu. Setiap kelompok memiliki cara sendiri-sendiri untuk mengorganisasi anggota kelompoknya. Namun hasilnya sama, berbagai ide bahasan tertuang di sana dengan range yang sangat luas. Ide-ide tersebut selanjutnya dicluster sesuai dengan kemiripan pokok bahasan. Terbentuk sekitar 6 - 7 tema, dan kami pun kembali membagi diri ke dalam kelompok-kelompok tema tersebut sesuai dengan minat masing-masing untuk mendiskusikannya. Maka, ada kelompok yang anggotanya melimpah, ada pula kelompok yang miskin anggota. Tak ada pemimpin definitif dalam kelompok yang terbentuk, namun ternyata secara alamiah setiap anggota kelompok berinisiatif untuk mengambil peran masing-masing. Ada yang langsung mengambil peran sebagai pengatur jalannya diskusi, ada yang langsung menjadi resource person alias mendominasi jalannya diskusi, dan ada pula yang mengambil peran sebagai pendengar, seperti saya :) .

Ternyata inilah Innovation Lab. Sebuah training yang menyatakan diri sebagai kursus dengan struktur yang tidak terstruktur. Seluruh agenda diserahkan kepada peserta, tentu dengan fasilitasi yang smart, dan hasilnya pun tergantung dari para peserta itu sendiri.

Innovation Lab merupakan ruang terbuka untuk berbagi informasi, bertukar wawasan antar peserta yang memiliki latar belakang yang sangat beragam, baik kultur, usia, tingkat pendidikan, negara, gender, pekerjaan, dan lain-lain untuk membahas tema yang mereka pilih sendiri. Untunglah, sebagian besar diantara kami berangkat dengan “Open Mind’ dan ‘Open Heart’. Seluruh peserta larut dalam arus rasa penasaran seperti apa jalannya Innovation Lab ini dan hasil yang diperoleh. Ternyata kunci keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah ‘Passion’. Keinginan untuk terlibat penuh dalam seluruh proses, tanpa ada agenda tersembunyi lain yang menyertai proses training.

Saya membayangkan jika kursus ini dilaksanakan dengan peserta-peserta yang ‘terpaksa’ ikut kursus. Bisa karena hanya untuk memenuhi target jumlah pelatihan, bisa karena lokasinya menarik, bisa karena hanya ingin escape from the bronx atau alasan lain yang tak terkait dengan training.

Tak menyangkal, kami pun memiliki motivasi-motivasi tersembunyi seperti itu, namun passion untuk terlibat dalam proses tersebut lebih besar. Maka, target pelatihan, kunjungan ke tempat-tempat menarik, dan lari dari aktivitas rutin menjadi bonus bagi kami. Proses yang kami lakukan dalam setiap session yang ditandai dengan pergantian waktu diwarnai dengan diskusi-diskusi intensif dalam kelas kecil, dan tak jarang di beberapa kelompok seperti kekurangan waktu untuk membahas tema tersebut. Seluruh peserta mau tidak mau harus mengungkapkan pendapat dan gagasannya, kalau tidak mau dianggap hanya numpang duduk.

Kata ‘terpaksa’ saya gunakan untuk mewakili orang-orang yang berangkat ke sebuah kursus dengan motif tersembunyi yang lebih besar, dan tidak segera mengubah mindsetnya saat masuk dalam kursus. Akibatnya, motif tersembunyi itulah yang lebih mendominasi. Maka, bisa dibayangkan bagaimana jalannya unstructured structured course ini. Mereka akan tersiksa selama proses itu berjalan.

Hari pertama kami ditutup malam hari dengan mengunjungi kantor walikota Bonn yang letaknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari Fabrik 45. Di situ kami melakukan model diskusi talkshow. Beberapa orang pakar diundang untuk duduk di depan sebagai pembicara, dan kami menjadi peserta seminarnya.

Hasilnya, saya berhasil merumuskan sebuah quotation yang sangat inspiratif, “It is harder to beat sleepy when listening seminar in 1 hour than involving discussion in 1 day, even we’re just a listener.” :) :) :D


TAGS innovaation labs bonn Fabrik 45 open mind open heart passion


-

Author

Follow Me