Jadi, Petualangan Dimulai Lagi

3 Nov 2012

Kalau sudah garis nasib, tantangan apapun juga pasti akan terlewati. Ternyata Allah telah menuliskan nasib bahwa kaki saya mesti menginjak tanah ras Arya. Maka, berbagai kendala yang ada pun menyingkir satu demi satu. Kuncinya berusaha sungguh-sungguh.

Maka, di sinilah saya hari ini memenuhi undangan dari GIZ. Di kota Bonn, di sebuah hotel yang kelihatannya milik pemerintah, Seminaris  Bad Honnef.

Tantangan pertama menuju tempat ini adalah visa. Jerman sudah menerapkan sistem IT terintegrasi untuk layanan permohonan visa Schengen di tempatnya. Keuntungannya, waktu layanan menjadi lebih pasti dan keputusan dapat tidaknya visa hanya 3 hari. Dengan sistem itu, pemohon visa harus mendaftar tanggal pengajuan visa melalui sistem tersebut. Namun masalahnya, undangan dari penyelenggara datang dua minggu sebelum hari H. Maka saya mengecek website kedutaan Jerman apakah masih ada slot untuk appointment pengajuan visa atau tidak.

Monitor laptop menunjukkan kabar buruk, semua slot terisi sampai tanggal 29. Padahal keberangkatan tanggal 31, jelas waktunya tidak cukup. Pupuslah harapan saya waktu itu untuk bisa ke negeri Bavaria ini. Namun keajaiban akan datang kepada orang-orang yang tidak menyerah.  Secara periodik, saya mengecek daftar appointment ini.  sampai pada satu saat, setengah hari sejak kegagalan itu, keajaiban itu datang. Seseorang membatalkan appointmentnya tanggal 19  dan satu slot pun kosong. Tak menyia-nyiakan kesempatan besar yang ada di depat mata, slot itu langsung saya sambar.

Appointment sudah di dapat, maka selanjutnya adalah melengkapi persyaratan visa tersebut. Foto untuk visa saya dapatkan di Fuji Image Plaza di depan Taman Menteng. Mereka sudah tahu ukuran-ukuran foto sesuai kebutuhan passpor. Tinggal bilang untuk visa Jerman, maka mereka akan memotret kita, mencetaknya sesuai persyaratan. Visa Schengen menyaratkan 80% dari bidang foto adalah muka. hanya butuh waktu tak lebih dari seperempat jam, syarat yang pertama terlewati.

Selanjutnya adalah mengisi formulir aplikasi. Bolak-balik menyusuri halaman-halaman di website Kedutaan Jerman, ternyata sulit sekali menjadi link download formulir ini. Setelah tanya sana sini, ternyata ada yang punya form aplikasi visa masuk ke negara Schengen. Langsung saya isi formulir tersebut tanpa mengecek secara detail.

Okay, aplikasi visa sudah diisi, tinggal menuju ke ATM mengambil uang untuk membayar proses visa itu, biayanya tertera di website mereka, sekitar 60 Euro, atau bisa dibayar dengan rupiah. Permohonan Visa di kedutaan Jerman tidak bisa mengandalkan perantara. Kita mesti mengajukan sendiri aplikasi tersebut. Maka, jika kita menggunakan jasa perantara, mereka cuma berguna untuk mengecek apakah kelengkapan kita sudah memadai atau tidak. Selebihnya, tidak ada lagi, kecuali untuk pengambilan passpor saat sudah selesai, kita bisa mengkuasakan ke mereka. Jadi saran saya, percaya dirilah untuk mengurus sendiri, kalau punya waktu yang memadai. Lebihi persyaratannya selama masih relevan, misalnya di requirementnya tidak menyebutkan adanya keterangan kerja dan rekening tabungan, namun dua dokument itu tetap saya serahkan ke mereka.

Tanggal 19 datang, saya segera menuju Kedutaan Jerman yang terletak di sebelah kanan Hotel Mandarin. Jadi bagi yang dari arah Blok M, sesampai di Bundaran HI, berputarlah balik arah dan langsung ambil ke kiri. Persis setelah melewati hotel Mandarin, di situ ada bangunan berpagar tinggi bercat hijau. Dari kejauhan tidak tanda-tanda menonjol bahwa itu adalah kedutaan Jerman, namun biasanya sudah terlihat kerumunan orang di depan pintu pagar selebar 1 meter.  Terkadang, antrean itu mengular panjang, seperti saat saya datang ke sana. Untunglah ada teman yang sudah mengantre di situ. Dia bilang, langsung saja ke satpamnya agar bisa segera masuk. Ternyata, antrean itu adalah antrean orang yang akan mengambil paspor mereka, alias sudah mengajukan aplikasi 3 hari sebelumnya.

Maka saya pun masuk ke dalam, seluruh perlengkapan elektronik dititip ke satpam untuk ditukar dengan ID Card. Tempat pengajuan aplikasi ada di lantai dua yang diakses melalui tangga di dekat pos satpam. Masuk ke dalam gedung, terlihat sepi. Mungkin ini efek dari penjadwalan melalui Sistem IT tersebut. Setelah melewati pintu depan, saya berbelok ke kiri sambil clingak-celinguk mencari loket untuk menyerahkan aplikasi yang sudah saya bawa. Tiba-tiba, seorang bapak-bapak berbaju batik dari belakang menegur saya, “Mau bikin visa, Mas?”

Sebuah kalimat yang membuat alarm kewaspadaan saya bangun. Kata-kata ini mirip yang biasa dilontarkan calo-calo yang berkeliaran di kantor imigrasi. Maka dengan percaya diri saya pun menjawab, “Iya Pak, tapi sudah diurus kok syarat-syaratnya, makasih.”

Langsung saya pun menuju loket yang ada, kalau tidak salah ada 4 atau 5 loket di situ, saya pilih saja loket bisnis karena saya diundang resmi oleh lembaga dari Jerman. Oleh mas-mas yang menjaga loket, saya disuruh mendaftar dulu di depan pintu. Tengok ke kanan, bapak-bapak itu tersenyum. Saya mendekatinya dan dengan kalem dia berkata, “Makanya mas, daftar dulu ke saya.” Kata-kata yang memicu aliran darah sedikit lebih cepat naik ke muka. Pikir saya menghibur diri, siapa suruh bertampang dan bertutur kata seperti calo, tak berseragam.

Ternyata, dia memang Pegawai yang bertugas mengecek apakah kita benar-benar sudah mendaftarkan appointment melalui website. Jadi tanpa appointment tersebut jangan sekali-kali kita nekat ke sana, karena akan sia-sia belaka waktu kita.

Okay, itu hanya bumbu, selanjutnya tinggal duduk manis menunggu giliran. Waktu menunjukkan pukul 10.15, dan jadwal saya adalah jam 10.30. Menghabiskan waktu 15 menit tanpa para gadget ternyata sangatlah membosankan. Mereka tersandera di ruang satpam. Untunglah, di situ berserakan majalah-majalah berbahasa Jerman, Belanda, dan Inggris, meskipun sudah usang.

15 menit berlalu, mas-mas penjaga loket bisnis memanggil saya. Berkas pun saya tenteng dan saya masukkan ke lubang di bawah jendela loket tersebut untuk diperiksa si Mas. Semua berlangsung dalam diam. Tiba-tiba dia berkata, “Pak, kok ini pakai aplikasi dari negara Swiss?”

Seketika luruh hati saya. Jadi rupanya softcopy form yang saya dapat tersebut adalah form aplikasi visa Schengen yang dikeluarkan oleh Kedutaan Swiss. Visa Schengen adalah visa yang dikeluarkan oleh negara-negara yang terikat oleh perjanjian Schengen, sebuah perjanjian untuk menghapus pengawasan perbatasan antara mereka. Hampir seluruh negara Uni Eropa tergabung, kecuali Irlandia dan Britania Raya, kata tante Wiki.

Namun dia kembali diam dan sejenak kemudian dia mengambil selembar kertas, dan mengangsurkan ke saya melalui lubang hitam di bawah jendela loket. “Silakan isi ini, Pak. Setelah itu kembali lagi ke saya,” ujarnya.

Saya pun mengisi formulir tersebut yang berisi deklarasi negara-negara yang akan saya kunjungi. Mengingat hanya memenuhi undangan dari GIZ, maka saya hanya mengisi negara Jerman untuk 8 hari. Kemudian form itu saya kembalikan ke si Mas, dan dia bertanya sepintas maksud perjalanan saya. Saya jawab, dan kami pun kembali tenggelam dalam keheningan.

Tak lama, dia mengeprint sesuatu, dan men-staples resi hijau kecil di atasnya kemudian menyorongkan ke saya, melalui lubang hitam. “Pak, tiga hari lagi ke sini, sesuai dengan tanggal dan jam ini,” ujarnya sambil menunjuk secarik karton hijau tersebut. Dia diam, saya diam, karena saya menunggu diminta pembayaran sesuai yang tertera di website. Maka saya pun membaca ulang kertas putih yang dia berikan, tercantum biaya “Rp 0″. Apa ini gara-gara form Swiss itu, sehingga muncul tanda-tanda kegagalan?

Maka, tiga hari penantian pun sangat menegangkan dan sampailah saya di hari penentuan takdir apakah saya bisa menginjak tanah Jerman atau tidak. Sebelum jam 13.00 saya sudah mengantre bersama puluhan orang lain di depan pagar hijau. Ternyata mereka sedang istirahat siang. Terik panas tak saya hiraukan demi visa tersebut. Tepat pukul 13.00, gerbang dibuka dan satu persatu antrean masuk ke dalam. Pengambilan passpor ternyata dilayani di satu loket dengan pos satpam, jadi tidak perlu ke atas.

Sebuah paspor berwarna hijau diangsurkan seorang Bapak dari dalam loket. Perlahan saya buka, dan kelegaan pun membuncah. Sebuah stiker bergambar foto saya menempel di lembar dalam paspor tersebut, bertuliskan multi entri untuk kunjungan 30 hari. Yay, akhirnya visa didapat. Perkiraan saya, tak perlu ada biaya pengurusan visa karena pengundangnya adlaah lembaga dari Jerman sana. Maka, Jerman pun sudah menghampar di depan mata, tinggal menunggu waktu keberangkatan.

Namun tantangan tidak hanya itu, exit permit dari kantor belum juga keluar sampai H-2. Maka, ancang-ancang untuk mengajukan annual leave pun mulai disiapkan. Untunglah setelah tanya sana-sini, H-2 menjadi hari yang indah. Sebuah memo dari Direktur SDM keluar yang isinya mengizinkan keberangkatan tersebut. Maka, cuti tahunan pun terselamatkan.

So, di sinilah saya sekarang, dari tanggal 1 sampai tanggal 8 November 2012 untuk mengikuti Innovation Labs dan Stakeholders Dialogue Training. Petualangan pun dimulai lagi, kini ke tanah Eropa.


TAGS wisata jerman visa jerman visa schengen GIZ Innovation Labs Stakeholders Dialogue


-

Author

Follow Me