Bertamu di Kampung Binatang

23 May 2012

Indonesia dan Afrika Selatan sama saja, memiliki kekayaan alam yang sangat banyak. Kekayaan alam tersebut dipelihara dalam Taman Nasional. Bedanya, Afrika Selatan telah menjadikan Taman Nasional sebagai daerah tujuan wisata komersial, selain tetap memperhatikan sisi perlindungan, sedangkan Indonesia masih jarang yang mengarah ke tujuan komersial. c939650e2f742932e671370d36e1f60a_dsc03248

Kita tahu kita punya Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Baluran dan berbagai taman nasional lain. Tapi, apakah tempat-tempat tersebut sudah menjadi tempat tujuan wisata utama? Rasanya belum.

Sementara Afrika Selatan memiliki Kruger National Park, Pilanesberg Nature Reserve, dan beberapa tempat konservasi lainnya. Dari sisi keanekaragaman hayati bisa jadi kita lebih unggul dari mereka. Namun, popularitas taman nasional di Afrika jauh lebih dikenal di dunia. Makanya, Afrika lebih dikenal sebagai rumahnya para binatang. Mereka mengelola Taman Nasional hingga bahkan bisa membiayai dirinya sendiri untuk kepentingan konservasi.

Kami mendapat kesempatan berkunjung ke Pilanesberg Nature Reserve pada hari ke-3, 8 Mei 2012. Taman nasional ini berada di Provinsi North West berada di cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan, bekas gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Wilayah ini didominasi tanah berbatu dan katanya banyak mineral langka yang terkandung di perutnya.

Wisata di taman nasional jangan dibayangkan seperti kita bertamasya ke Taman Safari di Cisarua. Kalau di Cisarua, kita mengunjungi suatu tempat, di mana binatang-binatangnya didatangkan dari berbagai penjuru dan dengan mudah kita menikmati kehadiran binatang tersebut di sekitar kita, karena wilayah jelajahnya yang sempit. Mereka tak lain adalah kebun binatang dalam konsep mereka yang dilepas dan kita yang dikerangkeng dalam mobil.

Sedangkan wisata di Taman Nasional bak berkunjung di sebuah desa binatang. Di situ manusia adalah tamu, dan para binatang tersebut memiliki wilayah jelajah yang sangat.. sangat luas. Jadi terserah mereka mau memamerkan tubuh mereka atau bersembunyi dalam semak-semak.

Maka, binocular atau kamera dengan zoom memadai merupakan modal yang sangat berharga saat mengunjungi taman nasional. Bisa jadi, binatang yang ingin kita lihat letaknnya ribuan meter dari tempat kita berada, sehingga gajah tampak seukuran ujung jari. Tanpa binokular, susah sekali membedakan ekor dan belalainya.

7000751d4b21968e99523fd98992a641_dsc03255

Namun justru itu tantangan dan daya tariknya. Menemukan zebra di tengah rerimbunan pohon seperti menemukan harta yang berharga. Menunggu Cheetah di antara bebatuan seperti pungguk merindukan bulan. Susah sekali.

Modal lain yang sangat berharga adalah guide yang memadai. Guide ini akan memecahkan kesunyian, menjawab rasa ingin tahu kita mengenai segala hal yang tersaji selama perjalanan.

Jadi, saat berkunjung ke Taman Nasional, Pilanesberg dalam hal ini, jangan harapkan para binatang ini menyambut kita di sisi kiri kanan jalan sambil menari-nari. Memang kalau beruntung, mungkin ada Burung Onta berjalan di samping kendaraan kita, atau seekor Kudu menyeberang jalan.

Meski demikian, yang datang tetaplah ramai. Dan Taman Nasional itu bisa membiayai diri mereka sendiri untuk konservasi penghuninya.

Ostrich sedang santai di samping bis

Ostrich sedang santai di samping bis


TAGS CLP afrika selatan


-

Author

Follow Me