Yang Membedakan adalah Kemasan

21 May 2012

Selain kilas balik sejarah Apartheid, hari pertama kami dalam training Climate Leadership Programme diisi dengan perjalanan melintas lorong waktu dalam bentuk yang lain. Kali ini bahkan lebih jauh lagi karena kami mengunjungi Sterkfontein Cave. Ini adalah sebuah gua prasejarah, di mana nenek moyang manusia ditemukan. Bicara tentang Gua, mungkin jauh lebih bagus gua di Indonesia, Sebelas duabelas dengan gua Sanghyang Poek di dekat PLTA Saguling - Bandung. Bicara tentang manusia prasejarah, mestinya jauh lebih lengkap Sangiran, yang dikenal sebagai gudangnya kerangka manusia purba. Tapi mengapa Sterkfontein Cave ramai dikunjungi orang?

Yang membedakan, tak lain tak bukan adalah kemasannya.

07f5a3eb3ab4b6f471a08b9e3a47f892_dsc03166

Sterkfontein Cave berada setengah perjalanan dari Johanesburg menuju Rustenburg, tempat kami menghabiskan waktu selama seminggu. Rustenburg adalah kota kecil di lereng pegunungan , sekitar 3 jam perjalanan darat dari Johannesburg. Sisi kiri kanan jalan didominasi dengan padang alang-alang mengering kecoklatan. Kecoklatan, entah karena mengering atau karena memang tampilannya kesehariannya seperti itu, saya kurang tahu. Namun yang jelas, Afrika Selatan sedang menghadapi musim dingin. Ditandai dengan perbedaan suhu ekstrim di pagi dan siang hari, serta pohon-pohon yang meranggas karena daun-daunnya berguguran.

Setelah sekitar satu setengah jam menyusur jalan, bis mulai menanjaki perbukitan. Di salah satu bukit berbatu itulah Sterkfountain berada. Gersang, panas, meranggas, namun tetap ada pengunjungnya. Daya tariknya adalah sebuah gua yang bercerita.

Afrika Selatan mengemas gua ini dengan cantik dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Sekali lagi, guanya biasa-biasa saja. Yang luar biasa adalah cara mengemasnya.

Jangan harap menemukan pedagang asongan yang menyambut pengunjung begitu turun dari bus. Ini kerugian sekaligus keuntungan. Rugi karena tidak ada pilihan tempat beli souvenir kecuali di souvenir store, namun untung karena pengunjung jauh lebih nyaman karena tidak terganggu. Dan saya, secara pribadi, lebih memilih tidak terganggu, karena tujuan utamanya adalah menikmati sajian, bukan mencari souvenir.

Sebuah bangunan yang didominasi kayu menyambut kita. Itu adalah kantor, ticketing, ruang pamer, caf dan souvenir shop yang bergabung menjadi satu. Setelah dibelikan tiket masuk perorang seharga 130 Rand (atau sekitar Rp 150.000,-), mulailah kami menyusuri wisata sejarah ini.

Saat menuju ke gua, kami melewati sebuah ruang pamer yang tidak terlalu besar namun tersaji cantik. Dalam ruangan disimpan berbagai kerangka manusia purba yang pernah hidup di wilayah itu, berikut ceritanya. Tulang belulang itu ditempatkan dalam etalase kaca dengan tata cahaya yang menarik perhatian, dan menjadi background bagi kaum narsis berfoto ria.

etalase berisi tulang purba

etalase berisi tulang purba

Keluar dari ruangan itu, kami disambut oleh seorang guide yang siap mengantarkan kami menjelajah gua. Guide ini adalah salah satu kunci kesuksesan gua. Jarak dari ruang pamer ke mulut gua tidak sampai 500 meter melintas ruang terbuka. Setiap jarak beberapa puluh langkah terdapat prasasti fosil. Sang Guide menjelaskan detail tentang fosil yang tertempel di situ, termasuk bumbu-bumbunya. Terkadang terkesan dibesar-besarkan memang, namun justru itulah daya tariknya, karena kita tidak sekedar mendapat cerita tentang fosil, namun cerita-cerita di balik fosil dan perjuangan saat penggalian fosil tersebut.

fosil yang bercerita

fosil yang bercerita

Ini artinya, guide adalah seorang profesional yang sangat mengenal daerah tersebut, cerita-cerita yang ada, bahkan kalau perlu legenda yang melingkupinya.

Selama perjalanan, cerita meluncur lancar. Sekali lagi, guanya biasa-biasa saja, bahkan beberapa sisi tampak terluka karena gua ini masih aktif dilakukan penggalian untuk menemukan jejak-jejak prasejarah lainnya. Kuncinya ada pada sang Cave Guide karena batu-batu tersebut jadi memiliki cerita.

Gua a...a..a..a ...

Gua a…a..a..a …

Keluar dari gua tersebut, kami disuruh memilih jalur pendek atau jalur jauh untuk menuju Souvenir Shop, alias bangunan awal tadi. Jalur pendek berarti kami melewati jalur berangkat tadi, sedangkan jalur panjang berarti melintas memutar punggung bukit, katanya sekitar 2 km. Kami pilih jalur panjang sembari ingin tahu seperti apa jalurnya.

Kami melintas jembatan kayu dengan ketinggian sekitar 1 meter, sesekali menemukan papan bertulis beware of snake. Jika pernah mengunjungi Hutan Mangrove di sekitar Pesanggaran Denpasar, maka Anda bisa membayangkan seperti apa jembatan tersebut.

jembatan kayu di atas ilalang

jembatan kayu di atas ilalang

Jembatan itu membelah padang ilalang dengan pemandangan terbuka, ada perbukitan di kejauhan. Serasa di tempatnya Little House of the Prairie.

Jadi, kembali kemasan memegang peranan. Bukit itu, gersang dan mungkin mengandung ular. Namun dengan membangun jembatan kayu cokelat di atasnya, pengunjung jadi tertarik melintasinya, dan menjadi tempat berfoto yang asyik.

Potensi wisata di tempat kita sangat banyak. Bahan mentahnya mungkin jauh lebih berkualitas di banding di Afrika. Namun, jika kita tidak sanggup mengemasnya, maka selamanya kita tidak akan mendapat nilai tambah dari apa yang kita miliki, karena kita hanya menjual bahan mentah.


TAGS CLP


-

Author

Follow Me