Menyusur Jejak Apartheid di Fietas

15 May 2012

CLP menyebut training selama 10 bulan ini sebagai Journey alias perjalanan menemukan jatidiri kepemimpinan. Karenanya, konteks trainingnya pun tidak melulu berada di kelas, justru porsi terbanyak adalah belajar langsung dari lapangan. Termasuk belajar dari jejak perjuangan melawan Apartheid di Fietas, yang kami lakukan di hari pertama training ini, 6 Mei 2012.

prasasti fietas
prasasti fietas

Wisata sejarah, sebenarnya biasa-biasa saja karena kita hanya berkeliling di wilayah-wilayah yang biasa-biasa saja pula. Kita berhenti di perempatan jalan, di pinggir tanah lapang, atau berhenti di depan sebuah bangunan. Namun yang luar biasa, Afrika Selatan mengemas wisata sejarah ini dengan sangat menarik, terutama karena penuturnya adalah pelaku sejarah. Dari lokasi yang biasa-biasa saja tadi, cerita meluncur lancar dan tidak terasa dari pagi hingga tengah hari mereka bercerita tahap demi tahap ketika rezim Apartheid memisahkan mereka, berdasarkan warna kulit.

Adalah Mac dan Faizeel Mamdoo yang memimpin perjalanan kami. Mereka Muslim yang tinggal di kawasan Fietas - Johannesburg. Fietas merupakan cermin Afrika Selatan. Jauh sebelum Apartheid menjadi momok bagi mereka, di wilayah Fietas ini tinggal komunitas muslim, kristen, kulit hitam, kulit putih, kulit berwarna, serta penduduk asli Afrika–tinggal dalam satu komunitas dengan damai.

Sesuai dengan namanya, Apart, Undang-undang Apartheid memisahkan antara golongan kulit hitam dan kulit putih, secara fisik. Akibatnya, banyak orang Fietas yang terpaksa meninggalkan rumahnya, pindah ke tempat yang ditetapkan pemerintah. Bagi yang tidak mau pindah secara sukarela, diusir paksa dengan kekerasan oleh pemerintah. Masa itu merupakan salah satu masa terkelam dalam sejarah Afrika Selatan.

Mamdoo yang kini usianya lebih dari 60 tahIun itu, terusir dari rumahnya saat ia berusia 9 tahun. Ia menceritakan betapa pahitnya berpisah dengan orang-orang yang secara batin sebenarnya sudah terikat. Mamdoo memiliki darah Indonesia dari generasi keenam. Indonesia, atau lebih dikenal sebagai Melayu memiliki keterikatan erat dengan penduduk Afrika Selatan. Beberapa bahasa Melayu bahkan menjadi bagian dalam percakapan sehari-hari masyarakat Afrika, meski dengan beberapa penyesuaian. Unaang merupakan istilah untuk mengundang orang untuk hadir. Atau Kantore untuk Kantor.

Makanan ini mirip makanan tradisional di Indonesia. Yang segitiga misalnya, gorengan berisi daging cincang.

Makanan ini mirip makanan tradisional di Indonesia. Yang segitiga misalnya, gorengan berisi daging cincang.

Lebih nyata lagi ketika perjalanan sejarah itu berakhir dengan mengunjungi kompleks pemakaman di wilayah itu, Braamfontain Cemetery. Kompleks ini memisahkan antara kompleks kristiani, cina, hindu, serta muslim. Sebuah makam khusus dalam bangunan bata merah dengan gerbang lengkung bercat hijau, adalah makam Hazraat Jaffar. Ia diyakini berasal dari Indonesia, atau setidaknya dari Asia Tenggara. Kembali kata berbau Indonesia yang dilontarkan. Kali ini kata “Keramat” disematkan ke kuburan Hazraat Jaffar ini, mirip kuburan-kuburan orang yang dianggap suci di negeri ini.

Di makam ini pula, pencipta lagu kebangsaan Afrika Selatan, Henokh Mankayi Sontonga, dikebumikan.



TAGS CLP Fietas apartheid


-

Author

Follow Me