Negara Eropa di Afrika

7 May 2012

Waktu menunjukkan pukul 04.51 sore waktu setempat, 5 Mei 2012, tatkala kami keluar dari Imigrasi Bandara Tambo Johannesburg. Sesaat kami menunggu bagasi dan selanjutnya berduyun-duyun keluar dari bandara. Di ruang penjemputan tampak laki-laki tinggi berkulit hitam membawa papan bertulis GIZ - Courtyard. Ya, merekalah yang menjemput kami di bandara, petugas dari Hotel Courtyard Rosebank yang terletak di jantung kota Johannesburg.

Sebuah mobil van putih dirangkai dengan karavan untuk menampung bagasi telah menunggu kami di tempat parkir. Dengan mobil itulah kami menuju hotel untuk beristirahat sehari sebelum menuju Rusternburg, sebagai tempat sebenarnya dari pelatihan ini. Perjalanan dari bandara sampai ke hotel memakan waktu sekitar 40 menit.

Bermalam di Johannesburg bukan tanpa alasan. Selain karena untuk menghilangkan penat setelah menempuh perjalanan 19 jam, kami mendapat undangan makan malam dari Duta Besar Republik Indonesia di Afrika Selatan.

Pak Dubes yang Menyambut Kami

Pak Dubes yang Menyambut Kami

Jam memang aneh rasanya. Nyaris menyelesaikan 2 putaran, namun kami tetap menemui sore di sini, padahal jarum pendek jam Jakarta kami telah menunjuk angka 8, yang artinya sudah jam 8 malam. Selisih 5 jam lebih awal dari Jakarta-lah penyebabnya. Karena itu, jika tidak bisa tidur nyenyak selama penerbangan, alamat akan teler meskipun matahari masih menampakkan dirinya.

Sebuah kehormatan mendapat undangan dari Dubes RI dan tak mungkin kami menyia-nyiakannya. Karena itu setelah berusaha mengalahkan rasa penat dan setelah beristirahat sekitar 1 jam, kami sudah berkumpul kembali di lobby hotel Courtyard. Waktu menunjuk pukul 18.45 tatkala kami meluncur ke Pretoria, tempat Kedutaan besar RI berada.

Perjalanan menuju Pretoria menyenangkan. Selain cuaca sangat cerah, jalannya sangat lebar, masing-masing arah memiliki lajur lebih dari 5, dengan aspal yang sangat mulus. Kondisi jalan seperti ini juga yang kami lewati dari bandara menuju ke hotel. Sementara, tidak terlalu banyak bangunan yang berjajar di pinggirnya, kebanyakan didominasi tanah terbuka.

Luar biasa bagusnya infrastruktur di Johannesburg, dan hampir seluruh Afrika Selatan ini diakui oleh Dubes RI untuk Afsel, Sjahril Sabaruddin. Menurut beliau, Afrika Selatan dikenal sebagai negara Eropa di benua hitam. Infrastruktur tertata baik, jalan-jalan mulus bahkan sampai ke pedesaan. Pendapatan perkapita Afsel memang relatif tinggi, sekitar USD 10.000 pertahun. Bandingkan dengan Indonesia yang baru melewati batas psikologis, USD 3.000 beberapa tahun lalu.

Indonesia memiliki hubungan sangat baik dengan Afrika Selatan. Sayangnya, hubungan tersebut belum terlalu dimaksimalkan Indonesia untuk menghadirkan devisa ke negeri tercinta. Karena itulah, saya saat ini bekerja keras untuk meningkatkan kerjasama ekonomi antar dua negara, ujar Pak Sjahril.

Pemerataan pembangunan ini, bisa jadi juga karena adanya pemisahan pusat-pusat kekuasaan. Pusat Pemerintahan terletak di Pretoria, Pusat Perdagangan terletak di Johannesburg dan Durban, Pusat Wakil rakyat ditempatkan di Cape Town, dan Penguasa Yudikatif bermarkas di Bloomfoutain.

Daerah-daerah itulah yang berkembang sangat pesat, termasuk daerah penyangganya. Pak Dubes mengumpamakan dirinya sering menempuh perjalanan ke Cape Town menggunakan mobil, yang jaraknya lebih dari Jakarta Surabaya, dalam waktu 14 jam dan dia tetap merasa segar sehingga bisa langsung melakukan rapat.

Mungkinkah Indonesia meniru konsep ini?

Atase Pertahanan yang semeja dengan saya, Kolonel Viktor Simatupang memperkuat pernyataan tersebut. Pria asal Sumatera Utara ini mengungkapkan kondisi politik Afsel sangat stabil, meski terkadang masih ada gesekan kecil antara kulit putih dan kulit hitam. Namun, sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara Afrika lainnya yang pernah ia kunjungi, yang bahkan masih terjebak perang saudara. Karena itulah, ia berani menyekolahkan anaknya ke SD Negeri, bukan di Sekolah Internasional, dan berbaur dengan warga kulit hitam setempat.

Pemimpin rombongan kami, Profesor Rizaldi Boer dari Institut Pertanian Bogor, menyatakan terima kasihnya kepada Dubes RI atas undangan ini. Menurutnya, program CLP merupakan upaya untuk memperbanyak calon-calon pemimpin yang memiliki visi dan kepedulian terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim tidak bisa ditangani oleh satu sektor saja, namun harus kolaborasi dan sinergi antar berbagai sektor. Karena itulah, peserta CLP merupakan kombinasi antara 3 sektor utama pembangunan yaitu Pemerintah, Swasta, dan LSM yang dimediasi oleh Akademisi.

Ucapan terima kasih tentu juga dialamatkan ke Pemerintah Jerman melalui Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan yang membiayai training ini. Pemerintah Jerman memang sangat peduli terhadap peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, yang terlihat dari kecenderungan pembiayaan bantuan luar negerinya selalu memberikan porsi tersendiri bagi pengembangan SDM. Melalui GIZ, Deutche Gesellscharft fur Internationale Zusammenarbeit, mereka menginisiasi program CLP.

Sambutan-sambutan malam itu disampaikan dalam bahasa Indonesia. Tak apa sesekali melihat Heike Pratsch dan Thilo Thormeyer dari GIZ yang turut hadir dalam jamuan makan malam itu terbengong-bengong. Percayalah, tak ada hal jelek yang disampaikan ke mereka meski dengan bahasa yang tak mereka pahami.

Undangan makan malam, tentu diakhiri dengan makan-makan. Setelah bertemu dengan sandwich dan makanan-makanan tawar lainnya di pesawat, kami bertemu lagi dengan kuliner berbumbu tajam di sini. Sungguh Indonesia sekali. Sangat menyenangkan menyantap sop buntut dengan aroma segar khas Indonesia di negeri seberang.


TAGS afrika selatan


-

Author

Follow Me